Bandar Judi Togel Online Togel Online agen judi bola terpercaya agen togel terpercaya agen poker Game Tembak Ikan Jacpot Indonesia

5 Pemain Hebat Yang Tak Pernah Tampil di Piala Dunia

5 Pemain Hebat Yang Tak Pernah Tampil di Piala Dunia – prediksi bola malam ini, prediksi skor, skor bola, prediksi jitu, head to head, starting line up susunan pemain, jadwak bola lengkap hari ini , jadwal lengkap dan prediksi skor bola piala dunia 2018 di russia . bwinbola.com Hampir setiap pemain sepakbola mempunyai impian bermain di turnamen sebesar Piala Dunia. Turnamen antar negara empat tahunan tersebut bisa dibilang sebagai magnet bagi pemain di seluruh dunia.

5 Pemain Hebat Yang Tak Pernah Tampil di Piala Dunia

5 Pemain Hebat Yang Tak Pernah Tampil di Piala Dunia

Namun, tidak semua pemain punya kesempatan bermain di Piala Dunia. Memiliki skill yang hebat tidak menjamin seorang pemain bisa tampil di sana.

Berikut ini lima pemain hebat yang tidak pernah bermain di Piala Dunia seperti dilansir Sportskeeda. (skd/ada) :

1. Ryan Giggs (Wales)
Ryan Giggs bisa dibilang sebagai pemain yang paling sukses di Premier League. Giggs menghabiskan seluruh karir bermainnya di Manchester United dan memenangkan 13 gelar Premier League, 2 trofi Liga Champions, 4 trofi FA Cup dan masih banyak lagi.

Namun, pemain sayap lincah ini tidak pernah lolos ke turnamen internasional dengan Wales. Wales terakhir kali lolos ke Piala Dunia pada tahun 1958 di mana mereka tersingkir di perempat final dari sang juara Brasil.

Giggs membuat debut internasionalnya dalam pertandingan melawan Jerman pada Oktober 1991. Pertandingan terakhirnya bersama Wales adalah kualifikasi Euro 2008 saat menghadapi Republik Ceko pada 2 Juni. Selama 16 tahun membela Wales, ia tidak pernah membawa negaranya lolos ke Piala Dunia dan Euro.

2. Eric Cantona (Prancis)
Dengan empat gelar Premier League dalam lima tahun maka tidak mengherankan jika dia disebut ‘King Cantona’ oleh penggemar Manchester United. Kedatangan Cantona mampu mengubah nasib Setan Merah di mana ia memainkan peran penting dalam membawa United merajai sepakbola Inggris pada tahun 1990-an.

Meski sangat sukses di level klub, Cantona tidak beruntung ketika membela Prancis di Piala Dunia.

Cantona mendapat debut internasional penuhnya saat melawan Jerman Barat pada bulan Agustus 1987 dari Henri Michel. Pada bulan September 1988, setelah dicoret dari tim nasional, Cantona marah dab menyebut Michel sebagai ‘a bag of sh*t’ dalam wawancara di TV sehingga membuatnya dibekukan dari timnas Prancis.

Namun, tak lama setelah itu, Michel dipecat setelah gagal memimpin Prancis untuk lolos ke Piala Dunia 1990. Empat tahun kemudian di bawah Gerard Houllier Prancis lagi-lagi gagal lolos ke Piala Dunia 1994 setelah kalah dalam pertandingan terakhir 2-1 di kandang sendiri melawan Bulgaria.

Pada bulan Januari 1995, Cantona diskors karena tendangan kungfu yang ditujukan pada penggemar Crystal Palace dalam pertandingan di Selhurst Park. Pada saat hukuman Cantona berakhir, ia kehilangan tempatnya sebagai playmaker tim dari Zinédine Zidane. Cantona akhirnya mengakhiri karir internasionalnya dengan Prancis pada 18 Januari 1995, setelah kemenangan 1-0 atas Belanda.

3. George Weah (Liberia)
Weah pernah bermain untuk klub Prancis, Italia, dan Inggris. Arsene Wenger adalah orang pertama yang menemukan bakatnya dari Eropa dan merekrutnya ke Monaco pada tahun 1988. Empat tahun kemudian, Weah pindah ke PSG di mana ia memenangkan gelar domestik pada tahun 1994 dan juga menjadi pencetak gol terbanyak di Liga Champions pada musim 1994-95.

Weah kemudian pindah ke Milan pada tahun 1995 di mana ia menghabiskan empat musim yang sukses dengan memenangkan dua gelar Serie A. Dikenal luas oleh banyak orang sebagai salah satu pemain terbaik Afrika sepanjang masa, Weah terpilih sebagai Pemain Terbaik Dunia FIFA Tahun 1995 dan juga memenangkan Ballon d’Or sehingga menjadikannya pemain Afrika pertama dan satu-satunya yang meraih penghargaan tersebut.

Meski meraih kesuksesan besar di level klub, Weah tidak bisa melakukan hal yang sama dengan tim nasionalnya. Sebagai salah satu negara kecil di dunia sepakbola, Weah melakukan segalanya untuk mendukung tim nasionalnya. Selain sebagai pemain bintang tim, Weah juga memainkan peran sebagai pelatih dan bahkan mendanai The Lone Star. Terlepas dari semua usahanya, Liberia selalu gagal lolos ke Piala Dunia.

4. George Best (Irlandia Utara)
Bagian dari Holy Trinity di Manchester United, George Best adalah salah satu legenda terbesar pada era kepelatihan Matt Busby di Manchester United. Dengan kemampuan yang dimilikinya, Best berhasil membantu United meraih dua trofi First Division (1964–65, 1966–67) dan Piala Eropa pada tahun 1968. Best kemudian dinobatkan sebagai European Footballer of the Year dan FWA Footballer of the Year.

Meski Federasi Sepakbola Irlandia menggambarkannya sebagai pemain terhebat yang pernah menggunakan kaos hijau Irlandia Utara, Best tidak pernah berpartisipasi dalam turnamen sepakbola terbesar di dunia. Di masa jayanya, Irlandia Utara gagal lolos ke Piala Dunia 1966, 1970 dan 1974.

Ketika Irlandia Utara akhirnya lolos ke Piala Dunia pada tahun 1982, Best tidak dipanggil oleh manajer Billy Bingham. Pada usia 36 tahun, kemampuan sepakbola Best sudah menurun sehingga ia tidak terpilih untuk skuat Irlandia Utara.

5. Alfredo Di Stefano (Argentina dan Spanyol)
Satu-satunya pemain dalam daftar ini yang pernah membela dua negara di level internasional, Di Stefano merupakan legenda Real Madrid. Memenangkan lima Piala Eropa berturut-turut dari 1955-1960, ia berperan penting membawa klub tampil dominan di Piala Eropa dan La Liga selama tahun 1950-an.

Di kancah internasional, Di Stefano pernah memperkuat dua tim nasional yang berbeda dalam kariernya. Ia bermain enam kali dengan tim nasional Argentina, dan 31 kali dengan tim nasional Spanyol, mencetak 23 gol.

Turnamen Piala Dunia yang menjadi kesempatan pertamanya adalah pada tahun 1950. Tapi Argentina memutuskan tidak berpartisipasi sehingga Di Stefano kehilangan kesempatan untuk bermain di Piala Dunia.

Empat tahun kemudian, Argentina kembali memilih untuk absen di Piala Dunia 1954. Pada tahun 1956, karena permintaan dari Real Madrid untuk menurunkan pemain internasional, Di Stefano mendapat kewarganegaraan Spanyol dan melakukan debutnya untuk tim nasional Spanyol pada 30 Januari 1957 dalam pertandingan persahabatan di Madrid, mencetak hat-trick dalam kemenangan 5-1 .

Namun, setahun kemudian, Spanyol gagal lolos ke Piala Dunia 1958. Pada tahun 1961, Di Stefano membantu Spanyol lolos ke Piala Dunia 1962. Namun sayangnya, cedera otot membuatnya gagal tampill di sana. Seiring dengan bertambahnya usia, Di Stefano akhirnya gantung sepatu dan bisa dibilang sebagai salah satu pemain terhebat yang tidak pernah bermain di piala dunia.